Break Your Limits

Break Your Limit


Lukas Manalu
July 20, 2018

Zhōu-zhōu, demikian dia dipanggil, tersenyum dan membungkukkan badan dalam kepada penonton mengakhiri penampilannya malam itu. Luarbiasa, penampilannya memimpin group orkestra di gedung Carnegie, Amerika Serikat, begitu memukau. Karena itu, penonton yang melakukan standing ovation, seakan tidak mau berhenti bertepuk tangan untuk Zhōu-zhōu.

Tidak hanya di gedung Carnegie, peserta pelatihan yang menonton video penampilan Zhōu-zhōu pun ikut bergemuruh, bertepuk tangan menunjukkan kekaguman mereka. Zhōu-zhōu memang bukan konduktor biasa. Dia memiliki perbedaan yang sangat besar dengan semua konduktor terkenal dunia.

Zhōu-zhōu, hingga kini disebut sebagai satu-satunya conductor di dunia yang mampu memimpin orkestra, walaupun tidak bisa membaca partitur lagu. Pernyataan itu mudah diterima. Karena dia lahir dan tumbuh sebagai anak yang mengalami down syndrome. Seorang psikolog yang menguji Zhōu-zhōu menemukan bahwa inteligen quotion (IQ) yang dia miliki, hanya 30.

Karena itu, penonton yang langsung melihat penampilan Zhōu-zhōu di gedung Carnegie terpukau dan memberikan tepuk tangan yang panjang. Begitu juga dengan karyawan perusahaan yang mengikuti pelatihan yang saya berikan, terkesima setelah melihat video penampilan Zhōu-zhōu. Mereka semakin termotivasi untuk melepas belenggu meraih sukses yang selama ini “mengikat” mereka.

Sebenarnya, Zhōu-zhōu bukan satu-satunya orang yang dilahirkan dengan kondisi down syndrome. Ada banyak orang yang mengalaminya, dan tersebar di berbagai belahan dunia. Dan, bila kondisi yang demikian dikategorikan “tidak sempurna”, sebenarnya kita juga menemukan banyak “ketidaksempurnaan” lain yang terjadi pada banyak orang. Untuk menggambarkan beberapa kondisi yang sering disebut “tidaksempurna” itu, banyak orang yang tidak asing dengan Nick Vujicik dan Silvester Stallone.

Nicholas James Vujicik, dikenal luas dengan nama Nick Vujicik, lahir dengan kondisi tangan dan kaki yang tidak sempurna atau tetra-amelia syndrome. Karena kondisi fisiknya, pada awal kelahirannya, Nick bahkan tidak diterima ibunya. Namun, dalam perjalanan hidupnya hingga dewasa dan menikah, Nick tidak hanya mampu menikmati kehidupan yang bahagia, tetapi juga berhasil membuat banyak orang bersukacita. Nick menjadi seorang motivator kelas dunia. Dia berkeliling ke berbagai negara, mendorong banyak orang untuk menikmati hidup dan membuat capaian-capaian, apapun keadaan dan latarbelakang masing-masing.

Bagaimana dengan Sylvester “Rambo” Stallone? Apakah dia meraih prestasi sebagai aktor terkenal, tergolong sukses di Hollywood karena didukung kelahirannya normal, hidup dalam keluarga kaya dan situasi impian lainnya? Sama sekali tidak.

Keberhasilan Sly, demikian panggilannya, tidak diawali oleh situasi-situasi impian itu. Sly lahir di depan gerbang sebuah sekolah, bukan di rumah sakit. Ibunya adalah seorang tunawisma yang tidak memiliki tempat tinggal menetap.

Dalam proses kelahirannya, si Rambo sempat tertahan dan terjepit di jalan lahir. Ibunya yang miskin tidak memiliki tenaga yang kuat untuk mendorong bayinya cepat keluar dari rahimnya. Akibatnya, Sly mengalami kelainan saraf di bagian mukanya. Wajahnya tidak simetris. Wajah sebelah kanan tampak tidak normal. Dia juga berbicara gagap, dan ujung bibirnya tertarik ke bawah.

Hal itu berdampak pada perjalanan Sly menjadi aktor. Dia ratusan kali mengikuti audisi untuk menjadi seorang aktor, dan sebanyak itu juga dia ditolak. Wajah cacatnya membuat Sly tidak diterima menjadi seorang aktor. Aktor biasanya tampan dan memiliki wajah yang menarik, tidak seperti wajah Sly.

Namun, hambatan itu tidak membuat Sly gagal meraih impiannya. Wajah cacatnya tidak membuat dia terkubur dalam hidup yang kelam. Kelompok masyarakat tua atau muda di dunia ini pasti tahu Rocky atau Rambo, 2 tokoh dalam film yang pernah menempati box office terlaris yang diperankan Sylvester Stallone. Sylvester Stallone bahkan pernah meraih posisi sebagai aktor termahal di dunia.

Tiga orang yang disebut di atas dan tiga jenis “ketidaksempurnaan” yang mereka miliki bukanlah orang-orang yang beruntung. Pencapaian mereka juga bukan anomali. Ada banyak orang yang mengalami “ketidaksempurnaan” seperti mereka, juga mampu mengukir prestasi yang membuat banyak orang kagum.

Bagi sebagian orang, “ketidaksempurnaan” itu adalah hambatan. Namun berbeda dengan orang yang biasa membangun sikap hidup dan pikiran positif. Allah Yang Maha Sempurna tidak mungkin salah ketika menciptakan manusia.

Colin Turner, penulis buku Born To Succedd, mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan untuk suatu tujuan tertentu. Bila kita setuju dengan pendapat itu, tentu saja kita akan percaya bahwa manusia, bagaimanapun kondisinya, diciptakan Tuhan untuk tujuan tertentu. Saling melengkapi dengan pendapat tersebut, Plato menyebutkan, “all thing are in fate, yet all things are not decreed by fate.” Bila kedua pendapat atau pemikiran tersebut dipadukan, akan ditemukan suatu peneguhan bahwa setiap orang memiliki takdir, sesuai dengan peran atau alasan atau tujuan dia diciptakan.

Walaupun demikian, tidak berarti semua yang terjadi pada manusia ditentukan oleh takdir tersebut. Artinya, manusia tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi melakukan yang terbaik di dalam hidupnya sesuai dengan takdirnya. Gap antara takdir saat seseorang dilahirkan dengan impiannya merupakan kesempatan yang dapat dipergunakan masing-masing orang untuk menggunakan semua potensi (talenta) yang dimiliki.

Manusia lahir dalam kondisi cacat atau tidak cacat secara fisik atau mental adalah takdir. Seseorang lahir di keluarga yang berpenghasilan rendah atau sedang atau tinggi, juga takdir. Demikian juga dengan kelahiran seseorang dari orangtua yang memiliki salah satu profesi antara lain: petani, guru, pengacara, pengusaha, atau profesi lainnya, adalah sesuai takdir yang diterima. Namun, apakah prestasi atau pencapaian sukses seseorang karena takdir?

Brian Tracy, motivator kelas dunia dan penulis sejumlah buku pengembangan diri, tidak sependapat dengan pemikiran bahwa prestasi atau pencapaian seseorang ditentukan oleh takdirnya. Tracy menggambarkan kehidupan seperti balok kombinasi dan mengatakan, “seseorang akan bisa memeroleh apapun yang diinginkan bila dia mau dan bekerja menemukan angka-angka yang tepat dan menyusunnya dengan tepat pula.”

Mirip dengan Tracy, Dr. Robert Resnick, seorang psikoterapist di Amerika, membuat rumusan sederhana untuk menunjukkan bagaimana sikap dan tindakan seseorang memengaruhi hasil yang diperoleh. Rumusnya adalah:

E + R = O
(Event + Response = Outcome)

Artinya, apapun situasi yang melekat pada saat kelahiran seseorang adalah merupakan event (peristiwa) yang tidak dapat dirubah. Namun response (respon) orang tersebut terhadap peristiwa itu akan memengaruhi outcome atau hasil yang akan dia peroleh.

Sukses atau gagal, kaya atau miskin, berpengaruh atau tidaknya seseorang adalah hasil dari respon terhadap peristiwa yang terjadi sebelumnya. Kondisi-kondisi yang terjadi itu bukan karena pengaruh takdir atau peristiwa yang melekat pada saat kelahirannya. Kalau pengaruh event-nya, orang-orang seperti Zhōu-zhōu, Nik Vujicik, Silvester Stallone dan banyak orang yang dianggap “tidak sempurna” akan tetap menjadi orang-orang marjinal yang tersingkir dan miskin. Mereka tidak mungkin mencapai prestasi luar biasa seperti yang sudah mereka raih. Nyatanya, mereka bahkan bisa memotivasi dan menginspirasi banyak orang.

Kalau orang lain bisa, Anda pun Pasti Bisa!!! Break your limit!!! Pertama, yakin bahwa Allah Maha Sempurna tidak mungkin menciptakan manusia yang berkualifikasi produk gagal. Semua ciptaanNya baik adanya. Kedua, Hidup bukanlah lembaran hitam, tetapi lembaran putih dengan sedikit titik hitam. Fokuskan diri Anda pada lembaran putihnya. Ketiga, yakinlah bahwa segala sesuatu memiliki alasan dan tujuan untuk diciptakan. Bukankah semua benda yang ada di sekitar kita diciptakan untuk sebuah tujuan? Ketiga, gap antara kondisi seseorang dilahirkan (event) dengan impiannya adalah kesempatan untuk memergunakan potensi (talenta yang dimiliki). Bertindaklah, pergunakan potensi yang Anda miliki. Keempat, outcome adalah hasil dari respon terhadap peristiwa. Karena itu, alih-alih mengeluh, lebih baik syukuri setiap peristiwa yang terjadi. Kembangkan sikap positif merespon semua peristiwa itu, niscaya Anda akan terlepas dari belenggu kesulitan dan melihat ujung terang perjalanan hidup Anda.

Salam unggul berkelanjutan,
Lukas Manalu